Bagaimana jika pengetahuan tentang musim tanam, kehidupan manusia, pernikahan, hingga petuah untuk anak-anak tidak ditulis dalam buku pelajaran, tetapi dinyanyikan sambil menari?
Di Desa Candirejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, tradisi semacam itu dapat ditemukan dalam Wulangsunu atau Gatholoco. Kesenian ini berbeda dari Jathilan yang identik dengan kuda kepang atau Kubrosiswo yang atraktif.
Wulangsunu/Gatholoco tampil lebih lembut dengan perpaduan gerak tari, iringan musik tradisional, dan syair-syair Jawa.
Salah satu unsur terpenting di dalam lagunya adalah pranata mangsa, yaitu pengetahuan tradisional Jawa mengenai pembagian musim yang sejak lama digunakan sebagai pedoman berbagai aktivitas, terutama pertanian.
Di Candirejo, Gatholoco bahkan disebut telah berkembang sejak sekitar dekade 1920-an berdasarkan penuturan para sesepuh setempat.
Tradisi ini mengalami masa pasang surut, sempat vakum, kemudian kembali mendapatkan ruang melalui keterlibatan masyarakat, termasuk kelompok perempuan desa.
Mari mengenal lebih dekat cerita, makna, dan keunikan Wulangsunu atau Gatholoco dalam budaya Candirejo.
Apa Itu Wulangsunu atau Gatholoco Candirejo?
Desa Wisata Candirejo mendeskripsikan Wulangsunu/Gatholoco sebagai tarian lemah gemulai yang diiringi musik dan lagu-lagu berisi pranata mangsa atau pengetahuan mengenai musim dalam tradisi Jawa untuk bercocok tanam.
Kesenian ini menjadi salah satu dari berbagai seni tradisional yang hidup di Candirejo bersama Jathilan, Kubrosiswo, Dayakan, Coke’an, karawitan, dan Sholawatan Jawa.
Pemerintah Desa Candirejo juga memasukkan Gatholoco/Wulangsunu sebagai salah satu kesenian tradisional yang dapat dinikmati pengunjung.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa kesenian ini kini bukan hanya milik ruang hajatan masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya Desa Wisata Candirejo.
Secara sederhana, pertunjukan ini menggabungkan tiga unsur penting: syair, musik, dan gerak tari.
Namun, syair memiliki kedudukan yang sangat penting. Dokumentasi mengenai seni Gatholoco di kawasan Borobudur menjelaskan bahwa gerak penarinya mengikuti lagu atau syair yang dinyanyikan.
Karena itu, pertunjukannya dapat dipahami sebagai media untuk menyampaikan pengetahuan melalui bentuk yang lebih menarik dan mudah diingat.
Jejak Gatholoco di Candirejo Sejak Sekitar 1920-an
Riwayat Gatholoco Candirejo banyak diketahui melalui penuturan para pelaku dan sesepuh seni di Dusun Brangkal, termasuk Mbah Martono dan Mbah Jarwo.
Dokumentasi Pemajuan Kebudayaan Desa menyebut kesenian Gatholoco di Candirejo diperkirakan sudah berdiri sejak sekitar tahun 1920-an. Dusun Brangkal disebut sebagai pusat perkembangan tradisi tersebut.
Berdasarkan penuturan lokal yang dihimpun Eksotika Desa, Gatholoco bahkan dianggap sebagai salah satu kesenian lama yang kemudian turut mewarnai tumbuhnya kesenian-kesenian lain di lingkungan desa.
Awalnya, para tetua dikisahkan menyampaikan berbagai perhitungan Jawa dengan memberikan nada sehingga terdengar seperti tembang.
Agar pengetahuan tersebut lebih mudah diingat dan diajarkan kepada masyarakat, penyampaiannya berkembang dengan tambahan gerak tari serta iringan alat musik.
Dari sinilah kita dapat melihat bahwa Gatholoco bukan sekadar hiburan.
Pertunjukan tersebut bekerja seperti media belajar tradisional. Pengetahuan yang cukup rumit dibuat lebih mudah diterima melalui lagu, ritme, pengulangan, dan gerakan tubuh.
Mengapa Disebut Wulangsunu?
Nama Wulangsunu juga memiliki cerita tersendiri dalam perkembangan Gatholoco Candirejo. Dokumentasi budaya setempat menyebut bahwa seiring perjalanan waktu, Gatholoco juga dikenal dengan sebutan Wulang Sunu.
Dalam penjelasan lokal tersebut, wulang dikaitkan dengan kegiatan memberi pelajaran atau mendidik, sedangkan sunu berarti anak. Wulang Sunu kemudian dimaknai sebagai memberikan pelajaran kepada anak.
Menariknya, “Wulang Sunu” bukan hanya nama alternatif. Dalam dokumentasi kelompok Gatholoco Candirejo, Wulang Sunu juga disebut sebagai salah satu syair yang biasa dilantunkan dan mempunyai maksud memberikan pelajaran kepada anak.
Makna ini cocok dengan karakter Gatholoco yang sarat pitutur atau nasihat.
Jadi, orang yang menyaksikan pertunjukannya tidak hanya memperoleh hiburan. Di balik lagu dan gerakan terdapat pengetahuan yang berkaitan dengan bagaimana masyarakat memahami alam dan menjalani kehidupan.
Pranata Mangsa, Pengetahuan Penting dalam Syair Gatholoco
Salah satu bagian paling menarik dari Wulangsunu atau Gatholoco Candirejo adalah hubungannya dengan pranata mangsa.
Pranata mangsa merupakan sistem pengetahuan tradisional Jawa yang digunakan sebagai pedoman membaca musim.
Penerbit BRIN menjelaskan bahwa sistem tersebut menggunakan berbagai tanda alam, seperti posisi matahari, arah angin, cuaca, perilaku hewan, serta kondisi tumbuhan sebagai bagian dari pengetahuan tentang pergantian musim dan kegiatan pertanian.
Pranata mangsa terdiri atas 12 mangsa. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan bahwa setiap mangsa berkaitan dengan perubahan kondisi iklim atau cuaca yang memengaruhi aktivitas kehidupan sehari-hari, flora, dan fauna.
Dalam Gatholoco Candirejo, pengetahuan tersebut masuk ke dalam syair.
Salah satu lagu yang didokumentasikan adalah Mongso Koso atau Mangsa Kasa, yang menjabarkan perhitungan musim. Selain itu terdapat syair seperti Sarju, Ambo Sedoyo, Kami Ulun, Engong Siswo, Ponco Sudo Panikah Nganten, Wulang Sunu, dan Lampah Roto.
Masing-masing membawa tema yang berbeda, mulai dari penghormatan kepada penonton hingga perwatakan dan kehidupan manusia.
Artinya, pertunjukan ini sebenarnya menyimpan semacam arsip pengetahuan dalam bentuk lisan.
Dari Mana Nama Gatholoco Berasal?
Nama Gatholoco sendiri memiliki beragam penggunaan dalam tradisi dan sastra Jawa. Karena itu, Gatholoco Candirejo sebaiknya tidak langsung disamakan dengan karya sastra Serat Gatholoco yang memiliki cerita dan konteks tersendiri.
Dalam tradisi lokal Candirejo, tiga sesepuh yang diwawancarai dalam kegiatan dokumentasi kebudayaan menjelaskan Gatholoco melalui ungkapan “nggathukke lakuning candra”, yang kurang lebih dikaitkan dengan kegiatan mencocokkan perjalanan atau peredaran bulan.
Penafsiran tersebut berhubungan dengan pengetahuan pranata mangsa yang terkandung dalam syair-syairnya.
Penafsiran ini perlu ditempatkan sebagai pengetahuan yang disampaikan pelaku tradisi Candirejo, bukan sebagai satu-satunya etimologi kata Gatholoco.
Hal tersebut penting karena nama Gatholoco juga ditemukan dalam naskah sastra Jawa. Perpustakaan Universitas Gadjah Mada, misalnya, menyimpan Serat Gatholoco yang menceritakan tokoh Gatholoco dalam kisah pencarian ilmu dan berbagai perdebatan filosofis.
Dengan membedakan keduanya, kita bisa memahami Gatholoco Candirejo sesuai konteks lokalnya: kesenian rakyat yang menggabungkan syair pengetahuan Jawa, musik, dan tari.
Musik dan Gerak dalam Pertunjukan Gatholoco
Gatholoco Candirejo memiliki karakter musikal yang cukup khas. Dokumentasi pelaku kesenian menyebut instrumen tradisional seperti terbang, dodhok, dan jedhor digunakan sebagai pengiring.
Terbang merupakan instrumen yang dekat dengan tradisi rebana. Dodhok digambarkan menyerupai kendang dengan salah satu sisi terbuka, sementara jedhor berukuran lebih besar dan berfungsi menghasilkan suara rendah seperti bass.
Gerak tarinya relatif luwes. Sumber Desa Wisata Candirejo menggambarkannya sebagai tarian yang lemah gemulai, sedangkan dokumentasi pelaku tradisi menjelaskan bahwa tidak ada satu rangkaian gerak baku yang harus selalu digunakan.
Gerak penari terutama diselaraskan dengan syair dan irama agar menghasilkan pertunjukan yang padu. Pada bagian tertentu, pertunjukan juga dapat menampilkan unsur silat, dagelan, atau atraksi.
Dahulu, atraksinya antara lain berupa gerak pencak silat. Dalam perkembangannya muncul variasi seperti menari di atas kendi yang diletakkan di atas meja hingga membawa payung dan boneka.
Perpaduan inilah yang membuat Gatholoco tidak terasa seperti ceramah mengenai pranata mangsa. Pengetahuan disampaikan lewat sebuah tontonan yang hidup.
Gatholoco dan Kehidupan Agraris Candirejo
Hubungan antara Gatholoco dan pranata mangsa terasa masuk akal ketika melihat karakter Candirejo sebagai desa yang dekat dengan kehidupan pertanian.
Situs Pemerintah Desa Candirejo menempatkan sistem pertanian tradisional sebagai salah satu pengalaman yang dapat dikenali wisatawan.
Pengunjung bahkan dapat melihat aktivitas pertanian dan mengenal kehidupan masyarakat yang masih berhubungan erat dengan lingkungan sekitar.
Dalam masyarakat agraris tradisional, kemampuan membaca musim sangat penting. Kapan hujan kemungkinan datang, kapan lahan mulai diolah, atau bagaimana perubahan tumbuhan dan hewan dibaca sebagai pertanda merupakan bagian dari pengetahuan yang dikembangkan selama generasi.
BRIN mencatat bahwa pranata mangsa merupakan bentuk pengetahuan lokal yang membaca berbagai gejala alam untuk membantu aktivitas masyarakat, khususnya pertanian dan perikanan.
Karena itu, Gatholoco dapat dipandang sebagai pertemuan antara seni dan pengetahuan ekologis.
Orang bernyanyi, menari, dan menikmati hiburan, tetapi pada saat yang sama pengetahuan mengenai musim terus diulang dan diwariskan.
Kebangkitan Gatholoco melalui Perempuan Candirejo
Perjalanan Gatholoco di Candirejo tidak selalu berjalan mulus. Kesenian ini pernah mengalami masa vakum karena sejumlah pemain lama meninggal, berhenti, atau berpindah ke kesenian lain. Namun, sebuah perubahan penting terjadi sekitar 2017.
Saat itu, kelompok perempuan yang tergabung dalam PKK Desa Candirejo membutuhkan kesenian untuk ditampilkan dalam acara peresmian Balkondes di Kecamatan Borobudur. Gatholoco kemudian dipilih dan para sesepuh membantu menghidupkan kembali kelompok tersebut.
Hal yang menarik adalah para penarinya kemudian didominasi perempuan.
Dokumentasi tahun 2023 mencatat delapan perempuan aktif dari kelompok beranggotakan 17 orang. Latar belakang mereka beragam, dari ibu rumah tangga, petani, pedagang, staf pemerintah desa, hingga pekerja lainnya.
Kebangkitan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian tradisi tidak harus berarti mempertahankan semuanya persis seperti masa lalu.
Gatholoco menemukan generasi dan ruang sosial baru tanpa harus kehilangan syair, musik, dan pengetahuan utama yang menjadi identitasnya.
Wulangsunu/Gatholoco sebagai Daya Tarik Budaya Candirejo
Saat Candirejo berkembang menjadi desa wisata, kesenian tradisional menjadi salah satu cara pengunjung mengenal kehidupan masyarakat secara lebih dekat.
Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Jawa Tengah memasukkan Gatholoco/Wulangsunu bersama karawitan, wayang, Kubrosiswo, dan Cokekan sebagai kesenian budaya yang masih dipentaskan di Candirejo.
Desa tersebut bahkan digambarkan sebagai kawasan yang masih kuat mempertahankan berbagai unsur budaya Jawa.
Portal resmi pariwisata Indonesia juga menyebut wisatawan dapat belajar Wulangsunu dan Gatholoco ketika mengikuti aktivitas budaya di Candirejo.
Di sinilah nilai wisata budaya sebenarnya terasa.
Pengunjung bukan hanya memotret penari dengan pakaian tradisional. Mereka dapat memahami bahwa syair yang didengar memiliki hubungan dengan musim, pertanian, kehidupan, dan pengetahuan masyarakat yang diwariskan selama beberapa generasi.
Dengan pendekatan tersebut, pariwisata dapat menjadi salah satu ruang untuk menjaga kesenian tetap terlihat dan dihargai.
Mengapa Gatholoco Candirejo Penting Dilestarikan?
Nilai utama Gatholoco tidak hanya berada pada tariannya. Kekuatan terbesar justru terdapat pada pengetahuan yang disimpan dalam syair.
Dokumentasi kebudayaan Candirejo mencatat bahwa kitab atau buku syair Gatholoco yang lama telah hilang. Beruntung, kelompok kesenian memiliki salinan baru yang diketik sehingga dapat digunakan sebagai bahan belajar anggota.
Kondisi tersebut menunjukkan betapa rentannya tradisi lisan jika tidak didokumentasikan.
Ketika seorang maestro meninggal tanpa sempat mewariskan lagu, perhitungan, atau teknik pertunjukan, sebagian pengetahuan dapat ikut hilang.
Karena itu, regenerasi menjadi pekerjaan penting. Generasi muda tidak cukup hanya diajak menonton. Mereka juga perlu mengenal syair, memahami maknanya, mempelajari musik, dan mengetahui hubungan kesenian tersebut dengan kehidupan masyarakat Candirejo.
Dengan begitu, Wulangsunu/Gatholoco dapat terus berkembang sebagai kesenian hidup, bukan sekadar cerita tentang tradisi masa lalu.
Wulangsunu atau Gatholoco Candirejo merupakan contoh menarik bagaimana masyarakat Jawa menyimpan pengetahuan dalam sebuah pertunjukan.
Melalui syair, musik, dan gerak tari, berbagai ajaran mengenai pranata mangsa, kehidupan manusia, perwatakan, pernikahan, hingga pendidikan anak diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Berdasarkan penuturan sesepuh yang didokumentasikan dalam kegiatan pemajuan kebudayaan, Gatholoco telah berkembang di Candirejo sejak sekitar 1920-an.
Tradisi tersebut sempat mengalami kemunduran, lalu mendapatkan energi baru antara lain melalui keterlibatan perempuan desa.
Jika berkunjung ke Desa Wisata Candirejo, cobalah melihat Wulangsunu/Gatholoco bukan hanya sebagai tarian. Dengarkan syairnya dan kenali maknanya. Di balik irama sederhana itu tersimpan cara masyarakat membaca alam dan memahami kehidupan.
FAQ
1. Apa itu Wulangsunu atau Gatholoco?
Wulangsunu/Gatholoco adalah kesenian tradisional Candirejo yang memadukan tari, musik, dan syair. Salah satu tema utama syairnya adalah pranata mangsa atau sistem pengetahuan musim dalam budaya Jawa.
2. Sejak kapan Gatholoco berkembang di Candirejo?
Berdasarkan penuturan sesepuh yang dihimpun dalam dokumentasi Pemajuan Kebudayaan Desa, kelompok Gatholoco Candirejo diperkirakan telah ada sejak sekitar tahun 1920-an.
3. Apa arti Wulang Sunu?
Dalam penjelasan pelaku tradisi Candirejo, Wulang Sunu dimaknai sebagai memberikan pelajaran atau pendidikan kepada anak. Wulang Sunu juga merupakan salah satu syair dalam repertoar Gatholoco Candirejo.
4. Apa hubungan Gatholoco dengan pranata mangsa?
Beberapa syair Gatholoco berisi perhitungan musim dan pengetahuan Jawa. Salah satunya adalah Mongso Koso atau Mangsa Kasa, yang berkaitan dengan pembagian musim dalam pranata mangsa.
5. Apakah Gatholoco Candirejo masih dilestarikan?
Ya. Gatholoco masih dicatat sebagai bagian dari kesenian tradisional Candirejo dan telah mengalami revitalisasi, termasuk melalui kelompok penari perempuan. Pada 2026, kegiatan budaya di kawasan Borobudur juga masih mendokumentasikan pertemuan dan pementasan Gatholoco.
