Slondok Candirejo, Camilan Tradisional Berbahan Singkong yang Renyah

Kalau berkunjung ke Desa Candirejo di kawasan Borobudur, jangan hanya sibuk menikmati suasana pedesaan atau berkeliling menggunakan sepeda dan andong.

Ada satu camilan sederhana yang menarik untuk dicicipi sekaligus dikenali proses pembuatannya, yaitu Slondok Candirejo. Terbuat dari ketela pohon atau singkong, slondok memiliki rasa gurih dengan tekstur renyah.

Sekilas mungkin terlihat seperti makanan ringan biasa. Namun, proses pembuatannya cukup panjang karena singkong harus dikupas, dicuci, diparut, dipres, dibumbui, dikukus, dibentuk, dijemur, lalu baru digoreng.

Menariknya lagi, slondok bukan hanya dijual sebagai camilan. Di Desa Wisata Candirejo, proses membuatnya telah menjadi bagian dari aktivitas wisata edukasi.

Pengunjung dapat mengikuti kegiatan mencabut singkong di lahan pertanian sebelum membawanya menuju home industry untuk diolah menjadi slondok.

Dari sinilah sebuah camilan singkong sederhana berubah menjadi cerita menarik tentang pertanian, kuliner, UMKM, dan kehidupan masyarakat desa.

Apa Itu Slondok Candirejo?

Slondok Candirejo adalah makanan ringan tradisional berbahan utama ketela pohon atau singkong yang diproduksi masyarakat di Desa Candirejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.

Situs resmi Desa Wisata Candirejo memasukkan slondok sebagai salah satu snack tradisional desa selain karah. Bahan dasarnya sederhana, tetapi membutuhkan beberapa tahapan pengolahan sebelum menghasilkan makanan ringan yang siap disantap.

Slondok memiliki karakter yang berbeda dari keripik singkong.

Pada keripik singkong, umbi biasanya diiris kemudian digoreng. Slondok justru melalui proses pemarutan dan pembentukan ulang. Karena itu, bentuk, tekstur, dan pengalaman makannya juga berbeda.

Dalam proses tradisional Candirejo, slondok dibentuk bulat menyerupai gelang kecil. Bentuk tersebut dibuat satu demi satu sebelum adonan dijemur dan akhirnya digoreng.

Bagi masyarakat setempat, makanan ini tidak hanya berfungsi sebagai teman ngemil. Slondok juga telah menjadi bagian dari atraksi kuliner dan home industry yang diperkenalkan kepada wisatawan.

Jadesta Kementerian Pariwisata secara khusus mencantumkan belajar membuat slondok sebagai salah satu aktivitas yang dapat dilakukan pengunjung di Candirejo.

Singkong, Bahan Utama di Balik Slondok Candirejo

Singkong termasuk tanaman yang sangat fleksibel untuk diolah menjadi berbagai jenis makanan. Dari bahan yang sama, masyarakat Indonesia mengenal tape, keripik, tiwul, tepung tapioka, mocaf, getuk, hingga aneka camilan tradisional.

Kementerian Pertanian juga menilai pengolahan singkong dapat meningkatkan nilai ekonomi dibandingkan apabila komoditas tersebut hanya dipasarkan sebagai bahan mentah.

Pengembangan produk olahan menjadi salah satu cara memperluas permintaan sekaligus menciptakan nilai tambah dari ubi kayu.

Hal tersebut terlihat cukup jelas di Candirejo.

Di desa ini, singkong tidak hanya hadir sebagai tanaman pertanian. Wisatawan bahkan dapat ikut cabut singkong di lahan masyarakat sebagai bagian dari aktivitas agrowisata.

Hasil panen tersebut kemudian dapat dikaitkan langsung dengan proses pengolahan pangan di home industry.

Model seperti ini membuat singkong memiliki lebih dari satu fungsi. Ia menjadi hasil pertanian, bahan baku makanan, sumber kegiatan ekonomi rumah tangga, sekaligus media wisata edukasi.

Bagaimana Cara Membuat Slondok Candirejo?

Salah satu bagian paling menarik dari slondok justru terletak pada proses pembuatannya. Makanan yang terlihat sederhana ini ternyata membutuhkan beberapa tahap sebelum berubah menjadi camilan renyah.

1. Singkong dikupas dan dicuci

Tahap pertama tentu memilih dan menyiapkan singkong. Umbi dikupas untuk membuang kulit luarnya, kemudian dicuci agar bersih dari tanah dan kotoran.

Kebersihan bahan penting karena singkong selanjutnya akan diparut dan diolah menjadi adonan.

2. Singkong diparut dan dipres

Singkong yang telah bersih kemudian diparut. Menurut keterangan Desa Wisata Candirejo, hasil parutan selanjutnya dipres sebagai bagian dari proses mendapatkan bahan yang digunakan untuk membuat slondok.

Tahap pemerasan atau pengepresan membantu mengurangi kandungan air sehingga bahan lebih mudah diolah ke tahap berikutnya.

3. Adonan diberi bumbu

Cita rasa tradisional slondok berasal dari bumbu sederhana.

Sumber lokal Candirejo mencatat penggunaan garam, bawang putih, dan ketumbar pada proses pembuatannya.

Kombinasi tersebut menghasilkan karakter gurih dan aroma rempah yang cocok dengan rasa alami singkong.

Justru karena bumbunya tidak terlalu rumit, karakter singkong masih dapat terasa.

4. Dikukus sekitar 30 menit

Setelah bumbu tercampur, bahan slondok dikukus kurang lebih selama 30 menit.

Pengukusan membantu mematangkan adonan sekaligus menghasilkan tekstur yang memungkinkan bahan dibentuk.

Tahapan ini juga menunjukkan bahwa membuat slondok tidak sesederhana mengiris singkong lalu memasukkannya ke dalam minyak panas.

5. Dibentuk menyerupai gelang

Setelah dikukus, bahan kemudian dimasukkan ke alat penggiling untuk membantu menghasilkan bentuk sebelum dibentuk secara manual.

Ciri yang disebut dalam dokumentasi Candirejo adalah bentuk bulat menyerupai gelang tangan. Pembentukan dilakukan satu per satu.

Bagian ini cukup menarik untuk dilihat ketika berkunjung ke home industry karena memperlihatkan sentuhan pekerjaan manual dalam produksi makanan tradisional.

6. Dijemur sebelum digoreng

Slondok yang telah dibentuk belum langsung dimakan.

Adonan harus dijemur terlebih dahulu hingga cukup kering. Setelah proses pengeringan selesai, barulah slondok digoreng hingga mengembang dan menghasilkan tekstur renyah.

Tahapan pengeringan ini sekaligus membantu membuat produk lebih praktis untuk disimpan sebelum digoreng.

Slondok dan Karah, Sama-Sama dari Singkong tetapi Berbeda

Candirejo sebenarnya memiliki lebih dari satu camilan tradisional berbahan singkong. Selain slondok, ada pula karah.

Keduanya dibuat dari ketela pohon dan proses awal pembuatannya relatif mirip. Namun terdapat perbedaan yang cukup penting.

Dalam pembuatan karah, singkong yang telah dikupas dan diparut tidak langsung diproses. Parutan tersebut didiamkan selama sekitar satu hari satu malam. Hasilnya menghasilkan karakter sedikit asam dengan tekstur yang lebih keras tetapi tetap renyah.

Slondok tidak melalui tahapan tersebut dengan cara yang sama.

Perbedaan ini menunjukkan bagaimana satu bahan lokal dapat melahirkan beberapa jenis makanan hanya melalui perubahan teknik pengolahan.

Bagi wisatawan, keduanya menarik untuk dibandingkan. Anda bisa mencicipi slondok lebih dulu, kemudian mencoba karah dan mengenali sendiri perbedaan tekstur maupun karakternya.

Dari Cabut Singkong hingga Membuat Slondok

Hal yang membuat Slondok Candirejo berbeda dari camilan singkong yang sekadar ditemukan di toko oleh-oleh adalah adanya pengalaman di balik produknya.

Desa Wisata Candirejo memiliki paket wisata edukasi yang mengajak pengunjung bersepeda menuju kawasan agro pertanian. Salah satu aktivitasnya adalah mencabut singkong sekaligus mengenal tanaman tumpangsari.

Singkong tersebut selanjutnya dibawa menuju home industry dan digunakan untuk mengenalkan proses pembuatan slondok kepada peserta.

Bagi pelajar, pengalaman ini bisa menjadi pembelajaran sederhana tentang rantai pangan.

Makanan yang biasanya muncul begitu saja dalam kemasan ternyata memiliki perjalanan panjang. Ada petani yang menanam, lahan yang dirawat, proses panen, pengolahan bahan, pembumbuan, pengeringan, penggorengan, hingga akhirnya produk bisa dinikmati.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga memasukkan kegiatan membuat slondok dan cabut singkong ketika menggambarkan aktivitas yang tersedia di Desa Wisata Candirejo.

Bahkan kegiatan promosi wisata Jawa Tengah pernah memasukkan sentra pembuatan slondok sebagai salah satu titik yang diperkenalkan di Candirejo.

Slondok sebagai Bagian dari Identitas Kuliner Candirejo

Makanan khas memiliki peran penting dalam perjalanan sebuah destinasi wisata.

Wisatawan mungkin datang karena pemandangan atau atraksi budaya, tetapi rasa sering menjadi salah satu bagian perjalanan yang paling mudah diingat.

Di Candirejo, slondok memiliki posisi menarik karena terhubung langsung dengan kehidupan pertanian desa.

Portal wisata resmi Jawa Tengah juga mengenalkan pengalaman pembuatan slondok sebagai salah satu aktivitas yang dapat dilakukan di Desa Wisata Candirejo.

Desa ini digambarkan memiliki basis agraris dengan budaya dan tradisi lokal yang masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Jadi, slondok bukan produk yang berdiri sendiri.

Ketika wisatawan mengikuti prosesnya, mereka juga melihat kebun, bertemu masyarakat, mengenal home industry, dan memahami cara bahan pangan lokal diolah.

Cerita inilah yang dapat memberikan nilai lebih kepada sebuah produk tradisional.

Sebungkus slondok mungkin terlihat sederhana. Namun ketika pembeli mengetahui bahwa makanan tersebut berawal dari singkong yang ditanam dan diolah masyarakat desa, produk menjadi memiliki hubungan yang lebih kuat dengan tempat asalnya.

Potensi Slondok sebagai Produk UMKM dan Oleh-Oleh

Produk berbahan singkong memiliki peluang ekonomi yang cukup menarik karena bahan bakunya dapat dikembangkan menjadi makanan dengan nilai tambah.

Kementerian Pertanian pernah mencontohkan bagaimana pengolahan singkong dapat meningkatkan nilai ekonomi dibandingkan pemasaran komoditas dalam kondisi mentah.

BRIN juga menilai pengembangan produk berbasis singkong dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal sekaligus memperpanjang umur simpan produk.

Dalam konteks slondok Candirejo, peluang tersebut bisa datang dari beberapa sisi.

Pertama adalah pasar wisatawan. Produk dapat dijual sebagai camilan yang langsung dinikmati atau dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Kedua adalah penguatan kemasan. Kemasan yang rapi, mudah dibawa, memiliki identitas Candirejo, serta memuat informasi produk akan membantu slondok terlihat lebih menarik di pasar modern.

Ketiga adalah pemasaran digital.

Produk tradisional tidak harus hanya bergantung pada wisatawan yang datang langsung. Dengan foto produk yang baik, kemasan yang aman, dan kemampuan menjaga konsistensi kualitas, pasar dapat diperluas melalui media sosial maupun kanal perdagangan daring.

Pengalaman UMKM slondok di Kabupaten Magelang juga menunjukkan persoalan seperti bahan baku, standardisasi produk, kemasan, manajemen, dan pemasaran menjadi faktor penting dalam pengembangan usaha.

Karena itu, mempertahankan cita rasa tradisional perlu berjalan bersama peningkatan kualitas usaha.

Menjaga Tradisi Sambil Tetap Berinovasi

Makanan tradisional tidak harus berhenti berkembang.

Slondok dapat tetap menggunakan bentuk dan rasa klasik sebagai identitas utama, tetapi produsen juga memiliki ruang untuk berinovasi.

Misalnya, slondok klasik dengan bawang putih dan ketumbar dapat tetap dipertahankan, sementara varian pedas atau rasa lain dapat dikembangkan untuk konsumen yang mencari pilihan berbeda.

Namun inovasi sebaiknya tidak menghilangkan cerita asalnya.

Nama Candirejo, bahan singkong, proses tradisional, dan keterlibatan masyarakat justru menjadi pembeda yang sulit ditiru produk industri besar.

Pengemasan juga bisa memanfaatkan cerita tersebut. Pada bagian belakang kemasan, misalnya, dapat ditampilkan sedikit informasi tentang Desa Wisata Candirejo atau proses singkong berubah menjadi slondok.

Dengan cara itu, konsumen tidak hanya membeli makanan.

Mereka juga membawa pulang sedikit cerita tentang kehidupan masyarakat di sekitar Borobudur.

Mengapa Slondok Candirejo Layak Dicoba?

Ada banyak alasan mencicipi slondok ketika datang ke Candirejo.

Yang paling sederhana tentu karena rasanya. Perpaduan singkong, bawang putih, ketumbar, dan garam menghasilkan camilan gurih yang cocok disantap dalam suasana santai.

Namun pengalaman terbaik sebenarnya adalah melihat proses pembuatannya.

Mengunjungi lahan pertanian, mencabut singkong, melihat home industry, dan mengetahui bagaimana makanan dibuat akan memberikan perspektif berbeda terhadap camilan yang akhirnya berada di tangan kita.

Inilah kekuatan wisata berbasis masyarakat.

Jadesta mencatat bahwa program wisata komunitas Candirejo melibatkan penduduk setempat secara aktif sekaligus memberikan sumber penghasilan tambahan dan membantu memperkenalkan warisan budaya lokal.

Slondok menjadi contoh kecil tetapi nyata dari hubungan antara pertanian, masyarakat, makanan, dan pariwisata tersebut.

Slondok Candirejo membuktikan bahwa makanan sederhana dapat membawa cerita yang panjang.

Berawal dari ketela pohon, singkong diparut, dipres, diberi bumbu bawang putih dan ketumbar, dikukus, dibentuk seperti gelang, dijemur, kemudian digoreng hingga menjadi camilan renyah.

Yang membuatnya semakin menarik adalah hubungan langsung antara slondok dengan kehidupan Desa Wisata Candirejo. Pengunjung dapat mengenal singkong sejak dari lahan pertanian hingga melihat proses pengolahannya di home industry.

Bagi Candirejo, slondok bukan hanya makanan ringan. Ia memiliki potensi sebagai oleh-oleh, produk UMKM, sekaligus media wisata edukasi.

Jadi, ketika berkunjung ke kawasan Borobudur dan singgah di Candirejo, jangan lupa mencicipi slondok. Kalau memungkinkan, ikuti juga proses pembuatannya agar pengalaman menikmati camilan tradisional ini terasa jauh lebih berkesan.

FAQ

1. Apa itu Slondok Candirejo?

Slondok Candirejo adalah makanan ringan tradisional berbahan ketela pohon atau singkong. Bahan diparut, dipres, diberi bumbu, dikukus, dibentuk, dijemur, kemudian digoreng hingga renyah.

2. Apa bahan utama untuk membuat slondok?

Bahan utamanya adalah singkong. Dalam resep yang dicatat Desa Wisata Candirejo, bumbunya menggunakan garam, bawang putih, dan ketumbar.

3. Apa perbedaan slondok dan keripik singkong?

Keripik umumnya dibuat dari singkong yang diiris kemudian digoreng. Slondok melalui proses pemarutan, pengepresan, pengukusan, pembentukan, dan pengeringan sebelum akhirnya digoreng.

4. Apakah wisatawan dapat belajar membuat slondok di Candirejo?

Ya. Jadesta dan situs Desa Wisata Candirejo mencantumkan pembuatan slondok sebagai bagian dari aktivitas home industry. Dalam paket wisata pelajar, peserta bahkan dapat mencabut singkong terlebih dahulu sebelum membawanya untuk diolah menjadi slondok.

5. Apakah slondok cocok dijadikan oleh-oleh?

Ya. Karakternya sebagai camilan kering membuat slondok potensial dikembangkan sebagai produk oleh-oleh, terutama bila didukung pengemasan, kualitas produk, dan pemasaran yang baik. Pengembangan olahan singkong juga dapat memberikan nilai tambah dibandingkan penjualan bahan baku saja.