Community Based Tourism ala Desa Wisata Candirejo: Warga Jadi Pelaku Utama

Bayangkan datang ke sebuah desa wisata, lalu orang yang mengantar berkeliling adalah warga setempat.

Anda menginap di rumah penduduk, naik dokar milik warga, melihat petani bekerja, mencicipi produk home industry, hingga menonton kesenian yang dibawakan masyarakat desa sendiri.

Konsep seperti inilah yang menjadi kekuatan Community Based Tourism ala Desa Wisata Candirejo. Candirejo berada di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, sekitar tiga kilometer dari Candi Borobudur.

Sejak dikembangkan sebagai desa wisata, masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai pelengkap atraksi, tetapi dilibatkan dalam pengelolaan dan penyediaan layanan wisata.

Pengelolaannya bahkan menggunakan Koperasi Desa Wisata Candirejo sebagai lembaga utama sejak 2003.

Jadesta Kementerian Pariwisata menyebut Candirejo berhasil mengembangkan wisata komunitas dengan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga sekaligus memperkenalkan budaya dan kehidupan pedesaan kepada pengunjung.

Lalu, seperti apa sebenarnya Community Based Tourism atau CBT di Candirejo dan mengapa model ini menarik untuk dipelajari?

Apa Itu Community Based Tourism?

Community Based Tourism (CBT) atau pariwisata berbasis masyarakat adalah pendekatan pariwisata yang memberikan ruang besar kepada komunitas lokal untuk terlibat dalam perencanaan, pengelolaan, pelayanan, dan penerimaan manfaat ekonomi dari kegiatan wisata.

Sederhananya, masyarakat tidak hanya melihat wisatawan datang ke kampung mereka. Warga ikut menentukan bagaimana pariwisata dijalankan dan menjadi pelaku ekonominya.

Penelitian tentang penerapan CBT di Candirejo menjelaskan bahwa pengelolaan pariwisata dilakukan melalui koperasi yang pelaku usahanya berasal dari masyarakat Candirejo.

Penelitian tersebut menemukan dampak antara lain munculnya variasi pekerjaan, usaha baru, peningkatan interaksi sosial, partisipasi masyarakat, hingga perbaikan fasilitas.

Ini berbeda dengan model wisata yang sebagian besar aktivitas ekonominya dikuasai pihak dari luar desa.

Dalam CBT, idealnya semakin banyak mata rantai wisata yang melibatkan warga: pemandu, homestay, transportasi, kuliner, kerajinan, pertunjukan seni, hingga pertanian.

Candirejo menawarkan contoh yang cukup konkret dari pendekatan tersebut.

Perjalanan Candirejo Membangun Wisata Berbasis Masyarakat

Community Based Tourism Candirejo tidak muncul dalam semalam.

Catatan Desa Wisata Candirejo menyebut proses sosialisasi konsep desa wisata mulai dilakukan pada 1997 dengan pembentukan kelompok kerja di tingkat desa dan dusun. Kelompok tersebut memetakan potensi alam, seni budaya, kerajinan, dan kuliner di setiap wilayah.

Pada 31 Mei 1999, Candirejo ditetapkan sebagai Desa Binaan Wisata Kabupaten Magelang. Selama periode 1999-2003, pembinaan kemudian diarahkan kepada berbagai pelaku seperti kelompok seni, pengelola homestay, transportasi lokal, pemandu, home industry, dan katering.

Puncaknya terjadi pada 19 April 2003, ketika Candirejo diresmikan sebagai desa wisata.

Pada tahun yang sama, Pemerintah Desa dan tokoh masyarakat membentuk Koperasi Desa Wisata Candirejo sebagai badan pengelola pariwisata. Keputusan tersebut diperkuat melalui SK Desa Nomor 04/KEPDES/05/2003.

Keberadaan koperasi menjadi salah satu bagian penting karena aktivitas wisata memiliki lembaga yang mengorganisasi layanan dan menghubungkannya dengan masyarakat.

Koperasi Menjadi Jantung Pengelolaan Pariwisata

Salah satu ciri paling menarik dari model CBT Candirejo adalah penggunaan koperasi.

Penelitian Universitas Tidar mengenai Candirejo bahkan menegaskan bahwa koperasi menjadi pengelola desa wisata dengan pelaku usaha yang berasal dari masyarakat setempat.

Kementerian Pariwisata kembali menyoroti model tersebut ketika Wakil Menteri Pariwisata mengunjungi Candirejo pada Januari 2025.

Kegiatan wisata desa dikelola melalui Koperasi Desa Wisata Candirejo sehingga perputaran ekonomi pariwisata diarahkan agar memberikan manfaat kepada masyarakat.

Model koperasi penting karena wisata melibatkan banyak pihak.

Ada pemilik homestay, kusir dokar, pemandu lokal, kelompok kesenian, petani, pembuat kerajinan, pelaku makanan rumahan, hingga penyedia konsumsi.

Tanpa koordinasi, wisatawan mungkin hanya berinteraksi dengan beberapa usaha tertentu. Melalui kelembagaan bersama, berbagai potensi masyarakat lebih mudah dimasukkan ke dalam paket perjalanan.

Inilah salah satu prinsip penting CBT: yang dijual bukan hanya tempat, tetapi ekosistem kehidupan masyarakat.

Warga Candirejo Menjadi Bagian Langsung dari Pengalaman Wisata

Cara paling mudah memahami CBT Candirejo adalah melihat apa yang dilakukan wisatawan ketika datang.

Jadesta mencatat pengunjung bisa datang ke home industry makanan dan kerajinan, belajar membuat tempe, keripik tempe, slondok, pahat batu, maupun anyaman tas srengkot. Mereka juga dapat ikut bertani, mencabut singkong, dan mengenal sistem pertanian masyarakat.

Semua aktivitas itu membutuhkan keterlibatan warga.

Petani bukan sekadar latar foto, tetapi orang yang memperkenalkan aktivitas pertanian. Pembuat slondok bukan hanya produsen makanan, melainkan dapat menjadi bagian dari pengalaman edukasi wisatawan.

Begitu pula pengrajin.

Keahlian membuat produk lokal berubah menjadi sumber pengalaman yang memiliki nilai ekonomi tambahan.

Pemandu lokal

Jadesta saat ini mencatat Candirejo mempunyai sistem kepemanduan lokal yang terstruktur. Para pemandu berasal dari masyarakat setempat dan berada dalam ekosistem pengelolaan desa wisata.

Pemandu lokal memiliki kelebihan yang sulit digantikan orang luar.

Mereka tidak hanya hafal rute. Mereka hidup di desa tersebut, mengenal kebiasaan masyarakat, cerita tempat, pertanian, tradisi, dan perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu.

Homestay: Wisatawan Tinggal Bersama Masyarakat

CBT semakin terasa ketika wisatawan tidak hanya datang selama beberapa jam.

Melalui konsep Stay at Local House, pengunjung dapat tinggal satu atap dengan penduduk Candirejo. Tamu menikmati makanan tradisional Jawa yang disiapkan tuan rumah dan dapat makan bersama keluarga pemilik rumah.

Di sinilah homestay berbeda dari hotel.

Rumah warga tidak hanya berfungsi sebagai tempat tidur. Interaksi dengan tuan rumah menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Program Live In Candirejo bahkan menggabungkan homestay dengan kegiatan agro, home industry, kesenian, gerabah, transportasi lokal, dan soft trekking.

Bagi pemilik rumah, kamar tambahan dapat menghasilkan pendapatan.

Bagi wisatawan, tinggal bersama warga membuka kesempatan mengenal kehidupan pedesaan Jawa secara lebih dekat.

Hubungan semacam inilah yang menjadi inti pariwisata berbasis komunitas: ada pertemuan antara tamu dan masyarakat, bukan sekadar transaksi antara konsumen dan perusahaan wisata.

Pertanian Tidak Ditinggalkan, Justru Menjadi Atraksi

Salah satu risiko pengembangan destinasi wisata adalah masyarakat meninggalkan pekerjaan lamanya karena seluruh perhatian beralih ke sektor wisata.

Candirejo menunjukkan pendekatan yang berbeda.

Pertanian justru dimasukkan ke dalam produk wisata. Dalam paket Village Experience, wisatawan dapat melihat aktivitas masyarakat mulai dari menyiapkan lahan hingga menikmati buah musiman. Perjalanan dilanjutkan dengan sepeda atau dokar sebelum makan di rumah penduduk atau pendopo.

Jadesta juga mencatat aktivitas cabut singkong, panen, dan pengenalan sistem pertanian sebagai bagian dari pengalaman desa.

Pendekatan ini menarik karena mata pencaharian lokal tidak harus “digantikan” oleh pariwisata.

Petani tetap bertani, tetapi kegiatan pertanian memiliki nilai tambahan sebagai wisata edukasi.

Singkong bahkan dapat dilanjutkan ke home industry dan diolah menjadi slondok. Dengan begitu, wisatawan dapat melihat rantai sederhana dari kebun, pengolahan, hingga produk kuliner.

Seni dan Budaya Menjadi Milik Warga, Bukan Sekadar Pertunjukan

Community Based Tourism juga mempunyai hubungan erat dengan pelestarian budaya.

Candirejo memiliki sejumlah kesenian yang diwariskan masyarakat. Jadesta mencatat Jathilan yang mengangkat cerita pasukan Diponegoro, Wulangsunu dengan syair pengetahuan pertanian, Coke’an, Sholawatan Jawa, serta Dayakan.

Ketika kelompok seni tampil untuk wisatawan, tradisi memperoleh ruang pertunjukan sekaligus peluang ekonomi.

Namun nilai terpenting bukan hanya jumlah pementasan.

Selama masyarakat tetap memahami sejarah, fungsi, dan makna keseniannya, aktivitas wisata dapat membantu membuat seni tradisional tetap relevan bagi generasi berikutnya.

Ini menjadi salah satu alasan model CBT perlu mengutamakan masyarakat sebagai pemilik budaya.

Wisatawan datang sebagai tamu yang belajar, bukan pihak yang menentukan bagaimana tradisi harus berubah.

Manfaat Ekonomi Tidak Berhenti pada Satu Usaha

Salah satu pertanyaan penting dalam pariwisata adalah: siapa yang mendapatkan uang dari wisatawan?

Dalam model Candirejo, satu perjalanan dapat melibatkan cukup banyak pelaku.

Wisatawan menggunakan pemandu lokal, naik dokar, masuk ke kebun, mengunjungi home industry, membeli makanan, melihat kesenian, dan mungkin menginap di homestay.

Artinya, pengeluaran wisatawan memiliki peluang menyebar ke beberapa kelompok masyarakat.

Penelitian pada 2018 menemukan penerapan CBT Candirejo berkaitan dengan diversifikasi pekerjaan, berkembangnya usaha baru, partisipasi masyarakat, dan perubahan sosial.

Meski demikian, penelitian itu juga menegaskan bahwa Candirejo belum sepenuhnya dapat dilepaskan dari dukungan pemerintah dalam seluruh aspek kemandirian desa.

Temuan tersebut penting karena CBT bukan formula ajaib.

Masyarakat tetap membutuhkan peningkatan kapasitas, jaringan pemasaran, kualitas layanan, kelembagaan yang sehat, serta evaluasi mengenai siapa yang menerima manfaat.

Dampak Sosial, Budaya, dan Lingkungan Juga Penting

Keberhasilan desa wisata tidak cukup diukur dari jumlah tamu.

Penelitian tentang pariwisata berkelanjutan di Candirejo pada 2023 menemukan perkembangan positif dalam aspek ekonomi, interaksi sosial, serta pemeliharaan lingkungan.

Peneliti juga menekankan pentingnya pemantauan dampak pariwisata agar kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan produk wisata dapat terus dijaga.

Ini penting karena wisata yang terlalu ramai juga dapat membawa masalah.

Sampah bisa meningkat, budaya dapat terlalu dikomersialkan, dan manfaat ekonomi bisa terkonsentrasi pada beberapa orang jika tidak dikelola dengan baik.

Karena itu, CBT seharusnya bukan hanya berarti “warga bekerja di sektor wisata”.

Yang lebih penting adalah masyarakat memiliki ruang dalam pengambilan keputusan dan tetap mempunyai kontrol terhadap arah perkembangan desanya.

Candirejo Mulai Diakui sebagai Contoh Wisata Komunitas

Model Candirejo mendapat perhatian lebih luas dalam beberapa tahun terakhir.

Jadesta mencatat desa ini menerima Apresiasi Inspirator CBT dari Indonesia Ecotourism Network (Indecon) pada 2024. Candirejo juga telah masuk kategori desa wisata mandiri dalam direktori Jadesta.

Pada Januari 2025, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengunjungi Candirejo dan menilai desa tersebut dapat menjadi contoh bagaimana pengembangan desa wisata meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekaligus membantu melestarikan budaya melalui tata kelola koperasi.

Data Kementerian Pariwisata bahkan mencatat bahwa pada periode Juli hingga September 2024, Candirejo menerima rata-rata sekitar 1.500 wisatawan mancanegara per bulan.

Angka tersebut menarik karena menunjukkan wisata berbasis kehidupan desa ternyata dapat mempunyai pasar internasional.

Wisatawan tidak selalu mencari wahana besar. Pengalaman mengobrol dengan warga, belajar gamelan, bersepeda di kebun, atau melihat proses pembuatan makanan lokal juga dapat memiliki daya tarik kuat.

Pelajaran Community Based Tourism dari Candirejo

Ada beberapa hal yang dapat dipelajari dari pengalaman Candirejo.

Pertama, desa tidak harus membangun objek wisata baru yang mahal. Aktivitas pertanian, seni, kuliner, rumah warga, transportasi tradisional, dan keterampilan masyarakat dapat menjadi modal utama.

Kedua, kelembagaan penting. Pembentukan koperasi membuat kegiatan wisata memiliki wadah pengelolaan yang lebih terstruktur.

Ketiga, warga perlu diposisikan sebagai pelaku, bukan sekadar tenaga kerja.

Mereka dapat menjadi pemandu, pemilik homestay, petani yang memberikan pengalaman edukasi, perajin, seniman, kusir dokar, maupun produsen makanan.

Keempat, pariwisata harus berjalan bersama kehidupan desa.

Candirejo tidak perlu berubah menjadi taman hiburan. Justru suasana pedesaan, hubungan sosial, kegiatan pertanian, dan tradisi lokal menjadi alasan wisatawan datang.

Pada titik itulah Community Based Tourism terasa masuk akal: pariwisata tumbuh karena desa memiliki kehidupan yang menarik, bukan desa dipaksa berubah demi pariwisata.

Community Based Tourism ala Desa Wisata Candirejo menunjukkan bahwa masyarakat dapat ditempatkan di pusat kegiatan pariwisata.

Sejak pembentukan Koperasi Desa Wisata Candirejo pada 2003, berbagai layanan seperti pemandu lokal, homestay, dokar, pertanian, home industry, kuliner, kerajinan, dan kesenian dihubungkan dengan aktivitas wisata.

Model tersebut memberikan peluang pendapatan sekaligus membuka ruang untuk menjaga budaya dan kehidupan lokal. Penelitian juga menunjukkan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan, meski pengelolaan tetap membutuhkan evaluasi dan penguatan berkelanjutan.

Saat berkunjung ke Candirejo, cobalah menikmati desa bukan hanya sebagai destinasi. Naiklah dokar, temui pengrajin, makan di rumah warga, belajar dari petani, dan dengarkan cerita pemandu lokal.

Dengan begitu, perjalanan Anda ikut mendukung gagasan utama CBT: wisata yang tumbuh bersama masyarakat.

FAQ

1. Apa itu Community Based Tourism di Desa Candirejo?

Community Based Tourism Candirejo adalah pengembangan wisata yang melibatkan masyarakat lokal secara aktif dalam pengelolaan dan pelayanan wisata, mulai dari homestay, pemandu, pertanian, kuliner, kerajinan, hingga seni budaya.

2. Siapa yang mengelola Desa Wisata Candirejo?

Pengelolaan pariwisata dilakukan melalui Koperasi Desa Wisata Candirejo, yang dibentuk pada 2003 dan diperkuat melalui SK Desa Nomor 04/KEPDES/05/2003.

3. Apa contoh aktivitas CBT di Candirejo?

Wisatawan dapat mengunjungi home industry, belajar membuat makanan dan kerajinan, ikut bertani, naik dokar atau sepeda, menikmati kesenian, serta tinggal bersama masyarakat melalui homestay.

4. Apa manfaat CBT bagi masyarakat Candirejo?

Penelitian menemukan manfaat berupa diversifikasi pekerjaan, munculnya usaha baru, peningkatan interaksi sosial dan partisipasi masyarakat, serta perkembangan fasilitas dan kondisi ekonomi.

5. Apakah Candirejo sudah diakui sebagai desa wisata berbasis komunitas?

Ya. Jadesta mencatat Candirejo memperoleh Apresiasi Inspirator CBT dari Indecon pada 2024, dan Kementerian Pariwisata pada 2025 menyorotnya sebagai contoh pengembangan wisata komunitas berbasis koperasi.