Agrowisata Candirejo, Belajar Bertani Seru Dekat Borobudur

Liburan ke kawasan Borobudur tidak harus selalu diisi dengan berjalan-jalan di kompleks candi.

Hanya sekitar tiga kilometer dari Candi Borobudur, ada Desa Candirejo yang menawarkan pengalaman berbeda: turun langsung ke lahan pertanian dan mengenal kehidupan masyarakat desa.

Pemerintah Desa Candirejo menyebut desa wisata ini berada di kawasan Perbukitan Menoreh dan menjadi desa wisata pertama di Kabupaten Magelang.

Melalui Agrowisata Candirejo, kegiatan bertani yang sehari-hari dilakukan warga berubah menjadi pengalaman edukatif bagi wisatawan.

Pengunjung dapat mencoba mencabut singkong, melihat tanaman di kebun, mengenal pola tumpangsari, hingga mengikuti proses pengolahan hasil pertanian di home industry.

Jadesta Kementerian Pariwisata juga mencatat aktivitas bertani dan memanen sebagai bagian dari pengalaman wisata Candirejo.

Konsepnya sederhana, tetapi justru itu yang membuatnya menarik. Wisatawan tidak hanya melihat sawah dan kebun dari kejauhan, melainkan belajar langsung bagaimana masyarakat memanfaatkan lahan dan mengolah hasil panen.

Mengenal Agrowisata Candirejo di Kawasan Borobudur

Desa Candirejo berada di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Letaknya yang dekat dengan Candi Borobudur membuat desa ini mudah dipadukan dengan perjalanan wisata ke kawasan candi.

Menurut situs Pemerintah Desa Candirejo, jaraknya kurang lebih tiga kilometer dari Borobudur.

Namun karakter wisatanya berbeda. Jika Borobudur menawarkan pengalaman sejarah dan arsitektur monumental, Candirejo membawa pengunjung lebih dekat dengan kehidupan pedesaan Jawa.

Pertanian menjadi salah satu elemen penting dari pengalaman tersebut. Jadesta mencatat wisatawan dapat ikut mencabut singkong, memanen hasil pertanian, serta mengenal sistem pertanian yang diterapkan masyarakat setempat.

Inilah yang membuat istilah agrowisata terasa tepat. Lahan pertanian tidak hanya berfungsi menghasilkan pangan, tetapi juga menjadi ruang belajar.

Pengunjung dapat mengenal tanaman, memahami proses budidaya, dan melihat hubungan antara pertanian dengan kehidupan ekonomi warga desa.

Belajar Sistem Pertanian Tumpangsari

Salah satu hal menarik yang diperkenalkan dalam Agrowisata Candirejo adalah sistem pertanian tumpangsari.

Secara umum, Kementerian Pertanian mendefinisikan tumpangsari sebagai sistem penanaman lebih dari satu jenis tanaman pada tempat yang sama dalam waktu bersamaan atau pada satu periode tanam.

Di kawasan Candirejo, wisatawan dapat menemukan lahan dengan beberapa jenis tanaman sekaligus. Indonesia Travel mencatat tanaman seperti kacang, jagung, ketela atau singkong, dan cabai dapat terlihat tumbuh dalam lanskap pertanian masyarakat Menoreh.

Mengapa Tumpangsari Menarik untuk Dipelajari?

Bagi wisatawan yang tidak terbiasa dengan pertanian, satu kebun yang berisi bermacam tanaman mungkin terlihat seperti kebun biasa.

Padahal, penataan beberapa jenis tanaman dalam satu lahan merupakan strategi pertanian yang memiliki banyak pertimbangan.

Publikasi Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa tumpangsari dapat membantu memaksimalkan pemanfaatan lahan, meningkatkan keragaman tanaman, serta mengurangi ketergantungan pada satu komoditas saja.

Dalam kondisi tertentu, sistem ini juga dapat membantu mengurangi risiko ketika salah satu tanaman mengalami gangguan.

Karena itulah melihat tumpangsari secara langsung memberikan pengalaman berbeda dibanding hanya membacanya dari buku.

Serunya Mencabut Singkong Langsung dari Kebun

Salah satu aktivitas yang cukup khas di Candirejo adalah cabut singkong.

Bagi masyarakat desa, kegiatan ini mungkin terasa biasa. Namun untuk anak-anak atau wisatawan perkotaan yang jarang mengunjungi lahan pertanian, mencabut singkong langsung dari tanah bisa menjadi pengalaman baru.

Situs resmi Desa Wisata Candirejo memasukkan cabut singkong dalam paket wisata pelajar. Dalam paket tersebut, peserta bersepeda menuju kawasan agro pertanian, mencoba mencabut singkong, lalu mendapatkan pengenalan mengenai tanaman tumpangsari.

Aktivitas sederhana tersebut sebenarnya menyimpan banyak pembelajaran.

Wisatawan dapat melihat bagian tanaman singkong yang tumbuh di atas tanah, kemudian mengetahui bahwa umbi yang dikonsumsi berada di bawah permukaan.

Mereka juga dapat memahami bahwa makanan yang tersedia di dapur membutuhkan proses budidaya dan panen terlebih dahulu.

Jadesta pun menempatkan pengalaman bertani seperti cabut singkong dan memanen hasil pertanian sebagai salah satu daya tarik Candirejo.

Karena dilakukan langsung di lingkungan pertanian masyarakat, pengalaman ini terasa lebih natural dibanding atraksi pertanian buatan.

Dari Singkong di Kebun Menjadi Slondok

Pengalaman bertani di Candirejo tidak selalu berhenti setelah hasil panen dicabut.

Salah satu bagian paling menarik adalah melihat hubungan antara pertanian dan home industry.

Dalam paket field trip yang dipublikasikan Desa Wisata Candirejo, singkong yang telah dicabut dibawa menuju home industry. Di sana, peserta diperkenalkan dengan proses pengolahannya menjadi camilan tradisional bernama slondok.

Konsep ini memberikan gambaran sederhana tentang perjalanan pangan dari hulu ke hilir.

Wisatawan melihat singkong ketika masih berada di kebun, memanennya, kemudian mengetahui bahwa komoditas tersebut dapat diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Hal semacam ini sangat cocok untuk wisata edukasi pelajar. Anak-anak bisa memahami bahwa pertanian tidak hanya berkaitan dengan menanam dan memanen.

Setelah panen masih ada proses pengolahan, produksi makanan, pengemasan, hingga pemasaran.

Bagi masyarakat desa, hubungan antara pertanian dan industri rumahan juga memperluas manfaat ekonomi. Hasil kebun tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi kuliner lokal yang memiliki identitas Candirejo.

Bersepeda Menyusuri Lahan Pertanian Candirejo

Belajar bertani akan terasa lebih menyenangkan ketika perjalanan menuju kebun juga menjadi bagian dari pengalaman.

Beberapa paket Desa Wisata Candirejo menggunakan cycling tour untuk membawa peserta berkeliling desa.

Paket field trip setengah hari yang dipublikasikan pengelola, misalnya, mencantumkan perjalanan bersepeda menuju kawasan agrowisata, pengenalan tumpangsari, home industry, hingga aktivitas budaya.

Paket live in Candirejo juga memasukkan kombinasi bersepeda, cabut singkong, pengenalan tanaman tumpangsari, kerajinan, home industry, serta gamelan.

Bersepeda membuat wisatawan dapat menikmati lingkungan desa dengan tempo yang lebih santai.

Sepanjang perjalanan, pemandangan bukan hanya berupa lahan pertanian. Candirejo juga berada di lingkungan Perbukitan Menoreh dengan perkampungan dan vegetasi pedesaan yang masih terasa kuat.

Bagi yang tidak ingin bersepeda, pengelola juga mengenalkan cara lain untuk menjelajahi desa seperti berjalan kaki atau menggunakan andong.

Agrowisata sebagai Wisata Edukasi untuk Anak dan Pelajar

Candirejo cukup menarik dijadikan tujuan wisata edukasi pertanian karena pengunjung tidak hanya menjadi penonton.

Salah satu paket pelajar yang dipublikasikan pengelola memiliki durasi sekitar lima jam dan menggabungkan makan siang, pembagian kelompok, bersepeda, agrowisata, cabut singkong, pengenalan tumpangsari, praktik home industry, serta kegiatan budaya.

Jadwal dan paket tentu dapat berubah sehingga sebaiknya dikonfirmasi kembali sebelum kunjungan.

Model pembelajaran seperti ini cocok untuk siswa karena banyak informasi diterima melalui pengalaman langsung.

Ketika belajar tumpangsari, misalnya, peserta dapat melihat berbagai tanaman dalam satu lahan. Saat membahas singkong, mereka bisa langsung mencoba memanennya.

Setelah itu, hubungan antara pertanian dengan kewirausahaan terlihat ketika singkong dibawa ke home industry.

Kegiatan semacam ini juga memberikan konteks bahwa desa bukan sekadar tempat produksi pangan. Ada pengetahuan lokal, keterampilan, budaya, serta kegiatan ekonomi yang saling terhubung.

Karena itu, Agrowisata Candirejo bisa menjadi pilihan untuk field trip sekolah, kegiatan keluarga, maupun kelompok yang ingin mengenal kehidupan desa secara lebih dekat.

Pertanian sebagai Bagian dari Kehidupan dan Pariwisata Candirejo

Hal menarik dari Candirejo adalah pertanian tidak dibuat semata-mata untuk kebutuhan wisata.

Aktivitas tersebut berasal dari kehidupan masyarakat yang memang dekat dengan lahan pertanian. Pariwisata kemudian membuka kesempatan agar pengetahuan dan aktivitas sehari-hari itu dapat dikenalkan kepada pengunjung.

Jadesta menggambarkan keterlibatan masyarakat sebagai bagian penting dari pengembangan wisata Candirejo. Wisatawan dapat berinteraksi dengan aktivitas desa, sementara masyarakat memperoleh peluang tambahan dari kehadiran pariwisata.

Ini menjadi contoh bagaimana community-based tourism dapat berjalan.

Petani tetap menjalankan aktivitas pertanian. Pengelola wisata menyusun pengalaman kunjungan. Pemandu lokal membantu menjelaskan kondisi desa. Pelaku home industry memperkenalkan proses pengolahan hasil pertanian.

Satu kunjungan akhirnya dapat melibatkan beberapa kelompok masyarakat sekaligus.

Model tersebut membuat manfaat wisata tidak hanya berpusat pada satu objek atau bangunan. Kehidupan masyarakat sendiri menjadi bagian utama dari pengalaman.

Agrowisata Candirejo dan Panorama Menoreh

Belajar pertanian di Candirejo juga memiliki bonus berupa bentang alam yang menarik.

Desa ini berada di lingkungan Perbukitan Menoreh. Indonesia Travel menggambarkan perjalanan di kawasan tersebut dengan lahan pertanian yang ditanami beragam komoditas dan panorama hijau khas pedesaan.

Salah satu kawasan yang dikenal adalah Watu Kendil. Pemerintah Desa Candirejo juga memasukkan panorama Bukit Menoreh, Watu Kendil, serta aliran sungai di sekitar desa sebagai bagian dari potensi wisatanya.

Perpaduan tersebut membuat agrowisata tidak terasa seperti mengikuti kelas pertanian formal.

Wisatawan belajar sambil berjalan atau bersepeda di antara perkampungan, kebun, dan kawasan perbukitan.

Bagi keluarga, pengalaman ini dapat menjadi alternatif setelah mengunjungi Borobudur. Sementara bagi pelajar, suasana luar ruang membuat pembelajaran terasa lebih santai dan interaktif.

Tips Mengikuti Agrowisata Candirejo

Karena sebagian kegiatan dilakukan di luar ruangan dan lahan pertanian, gunakan pakaian yang nyaman serta alas kaki yang tidak masalah jika terkena tanah. Topi dan air minum juga berguna ketika kegiatan berlangsung pada siang hari.

Jika ingin mencoba cabut singkong, praktik home industry, atau paket khusus pelajar, sebaiknya lakukan reservasi atau konfirmasi dengan pengelola terlebih dahulu.

Paket yang tersedia dapat memiliki susunan kegiatan dan durasi berbeda. Situs Candirejo, misalnya, mempublikasikan pilihan mulai dari field trip setengah hari, satu hari, hingga program live in.

Datang dengan rasa ingin tahu juga penting.

Jangan hanya fokus mengambil foto. Cobalah bertanya kepada pemandu atau petani tentang tanaman yang ditemukan, waktu panen, pola tanam, hingga cara masyarakat mengolah hasil pertanian.

Justru percakapan seperti inilah yang membuat pengalaman agrowisata terasa lebih berharga.

Agrowisata Candirejo menawarkan cara berbeda menikmati kawasan Borobudur.

Alih-alih sekadar melihat pemandangan pedesaan, wisatawan dapat turun langsung ke kebun, mencabut singkong, mengenal sistem tumpangsari, dan melihat hasil pertanian diolah menjadi produk seperti slondok.

Kegiatan tersebut membuat Candirejo menarik sebagai destinasi wisata edukasi, terutama untuk keluarga dan pelajar.

Ditambah lokasinya yang hanya sekitar tiga kilometer dari Candi Borobudur, perjalanan ke desa ini relatif mudah dipadukan dengan agenda wisata kawasan Borobudur.

Jika ingin merasakan sisi lain Magelang, luangkan waktu untuk menjelajahi Candirejo.

Datanglah bukan hanya untuk melihat desa, tetapi juga untuk belajar bagaimana masyarakat bertani, mengolah hasil kebun, dan menjaga kehidupan agraris tetap menjadi bagian dari identitas mereka.

FAQ

1. Apa itu Agrowisata Candirejo?

Agrowisata Candirejo merupakan pengalaman wisata berbasis aktivitas pertanian di Desa Candirejo, Borobudur. Pengunjung dapat mengenal sistem pertanian lokal, mencabut singkong, serta melihat atau mengikuti pengolahan hasil pertanian.

2. Apa saja aktivitas pertanian yang bisa dilakukan?

Aktivitas yang terdokumentasi antara lain cabut singkong, mengenal tanaman tumpangsari, memanen hasil pertanian, serta mengunjungi home industry. Beberapa paket juga menggabungkannya dengan bersepeda dan aktivitas budaya.

3. Apa itu sistem tumpangsari?

Tumpangsari adalah pola bercocok tanam dengan menanam lebih dari satu jenis tanaman pada lahan yang sama dalam waktu bersamaan atau selama satu periode tanam.

4. Apakah Agrowisata Candirejo cocok untuk anak-anak?

Ya. Pengelola memiliki paket yang secara khusus ditujukan untuk pelajar, dengan kegiatan seperti bersepeda, cabut singkong, belajar tumpangsari, mengunjungi home industry, dan mengenal budaya lokal.

5. Seberapa jauh Candirejo dari Candi Borobudur?

Pemerintah Desa Candirejo dan Indonesia Travel menyebut lokasinya sekitar tiga kilometer dari kawasan Candi Borobudur.