Sejarah Desa Candirejo, Desa Wisata Pertama di Kabupaten Magelang

Berbicara tentang wisata di kawasan Borobudur, kebanyakan orang mungkin langsung membayangkan kemegahan Candi Borobudur.

Namun, hanya sekitar tiga kilometer dari kawasan candi terdapat sebuah desa yang memiliki perjalanan menarik dalam mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat. Desa tersebut adalah Candirejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Sejarah Desa Candirejo menarik untuk dipelajari karena transformasinya tidak terjadi secara instan. Sebelum dikenal wisatawan, kehidupan masyarakat Candirejo banyak berhubungan dengan pertanian, kegiatan sosial pedesaan, kesenian tradisional, dan pemanfaatan sumber daya lokal.

Gagasan menjadikan desa sebagai destinasi wisata kemudian berkembang secara bertahap melalui keterlibatan pemerintah desa dan masyarakat.

Proses panjang tersebut akhirnya membawa Candirejo diresmikan menjadi desa wisata pada 19 April 2003. Pemerintah Kabupaten Magelang menyebutnya sebagai desa wisata pertama di Kabupaten Magelang.

Menariknya, daya tarik Candirejo bukan berupa satu objek wisata besar. Kehidupan sehari-hari masyarakat, pertanian, bentang alam Menoreh, tradisi, kuliner, kerajinan, hingga rumah penduduk justru menjadi bagian dari pengalaman wisata yang ditawarkan.

Asal-Usul Nama Desa Candirejo

Nama Candirejo memiliki cerita yang berkaitan erat dengan kondisi alam wilayahnya. Menurut keterangan pengelola Desa Wisata Candirejo, kata “Candi” secara lokal dikaitkan dengan batu, sementara “Rejo” berarti subur.

Nama Candirejo kemudian dimaknai sebagai wilayah yang memiliki banyak batu tetapi tetap subur.

Penjelasan tersebut cukup masuk akal jika melihat karakter bentang alam Candirejo. Sebagian wilayah desa berada di kawasan perbukitan Menoreh yang memiliki banyak formasi batuan.

Bahkan berbagai lokasi di desa menggunakan nama yang berhubungan dengan batu, seperti Watu Kendhil, Watu Ambeng, Watu Dandang, Watu Tumpuk, dan Watu Asin.

Di sisi lain, daerah datarannya dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan pertanian. Kombinasi perbukitan, lahan pertanian, sungai, dan permukiman tradisional inilah yang kemudian menjadi modal penting ketika konsep desa wisata mulai dikembangkan.

Dengan kata lain, nama Candirejo bukan hanya identitas administratif. Nama tersebut juga menggambarkan hubungan masyarakat dengan lingkungan alam yang telah berlangsung selama beberapa generasi.

Kehidupan Candirejo Sebelum Menjadi Desa Wisata

Jauh sebelum wisata menjadi salah satu aktivitas ekonomi desa, kehidupan masyarakat Candirejo sangat dekat dengan sektor pertanian. Bertani merupakan bagian dari rutinitas masyarakat, berdampingan dengan kegiatan sosial, kerajinan, kesenian, dan tradisi lokal.

Penelitian mengenai pengembangan pariwisata Candirejo juga mencatat bahwa aktivitas pertanian dan budaya lokal kemudian menjadi aset penting bagi pengembangan desa wisata.

Kondisi geografis Candirejo turut membentuk kehidupan masyarakat tersebut. Desa ini berada di Kecamatan Borobudur dengan wilayah yang mencakup dataran dan kawasan perbukitan Menoreh. Sungai Sileng dan Sungai Progo juga menjadi bagian dari bentang alam desa.

Justru karena kehidupan pedesaan masih terasa kuat, masyarakat kemudian melihat adanya peluang wisata yang berbeda dari Candi Borobudur.

Wisatawan tidak hanya dapat melihat bangunan atau objek tertentu, tetapi dapat mengenal kehidupan masyarakat Jawa secara langsung. Konsep seperti inilah yang akhirnya berkembang menjadi community-based tourism atau pariwisata berbasis masyarakat.

Tahun 1997, Awal Gagasan Desa Wisata Candirejo

Perjalanan menuju Desa Wisata Candirejo mulai mendapatkan bentuk yang lebih jelas sekitar tahun 1997. Pemerintah desa saat itu mulai membangun gagasan pengembangan Candirejo sebagai desa wisata dan membentuk kelompok kerja di tingkat desa maupun dusun.

Kelompok tersebut memiliki tugas penting. Selain memperkenalkan konsep desa wisata kepada warga, mereka mulai memetakan berbagai potensi yang dimiliki setiap dusun.

Potensi yang diperhatikan tidak terbatas pada panorama alam. Seni budaya, kerajinan, makanan lokal, aktivitas pertanian, serta kehidupan masyarakat juga dipandang memiliki nilai wisata.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu bagian menarik dari sejarah Desa Wisata Candirejo. Desa ini tidak dibangun dengan menciptakan objek wisata buatan dalam skala besar. Sebaliknya, masyarakat berusaha mengenali apa yang sebenarnya sudah mereka miliki.

Aktivitas sehari-hari yang sebelumnya dianggap biasa kemudian dipandang sebagai pengalaman yang menarik bagi wisatawan, terutama mereka yang ingin memahami kehidupan pedesaan Jawa secara lebih dekat.

Tahun 1999, Candirejo Menjadi Pilot Project Desa Wisata

Perkembangan penting berikutnya terjadi pada 31 Mei 1999. Pemerintah Kabupaten Magelang memberikan respons terhadap gagasan tersebut dengan menjadikan Candirejo sebagai pilot project pengembangan desa wisata.

Melalui SK Bupati Magelang Nomor 556/1258/19/1999, Candirejo ditetapkan sebagai Desa Binaan Wisata tingkat Kabupaten Magelang.

Periode 1999–2003 kemudian menjadi masa penting dalam pembangunan fondasi pariwisata desa.

Pemerintah desa bersama kelompok kerja melakukan pembinaan terhadap masyarakat yang akan terlibat dalam kegiatan wisata.

Kesenian tradisional, homestay, transportasi lokal, pemandu wisata, industri rumahan hingga penyedia makanan mulai dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem pariwisata Candirejo.

Penelitian mengenai potensi pariwisata Candirejo juga mencatat bahwa pengembangan desa wisata mulai dilakukan sejak 1999 sebelum secara resmi berstatus sebagai desa wisata pada 2003.

Artinya, sebelum diresmikan, Candirejo telah menjalani proses persiapan selama beberapa tahun.

Pendampingan dan Penguatan Masyarakat pada 2001-2003

Pengembangan sebuah desa wisata tentu membutuhkan lebih dari sekadar panorama yang menarik. Masyarakat yang akan berinteraksi langsung dengan wisatawan juga perlu mendapatkan pengetahuan dan keterampilan.

Pada periode 2001 hingga 2003, proses penguatan masyarakat Candirejo mendapatkan pendampingan dari sejumlah pihak.

Catatan Desa Wisata Candirejo menyebut keterlibatan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Yayasan Patra Pala, serta dukungan JICA dalam proses pembinaan tersebut.

Pendampingan membantu masyarakat mempersiapkan berbagai unsur penting dalam pariwisata.

Warga belajar mengembangkan homestay, pelayanan wisata, kesenian, transportasi tradisional, industri rumah tangga, kuliner, serta kemampuan menjadi pemandu lokal.

Model ini membuat masyarakat tidak hanya menjadi penonton ketika wisatawan datang. Mereka menjadi pelaku utama yang menyediakan pengalaman wisata sekaligus mendapatkan manfaat ekonomi dari aktivitas tersebut.

Pendekatan berbasis masyarakat ini tetap menjadi salah satu ciri kuat Candirejo. Jadesta Kementerian Pariwisata juga menggambarkan Candirejo sebagai desa yang berhasil mengembangkan program wisata komunitas dengan keterlibatan aktif masyarakat lokal.

19 April 2003, Candirejo Resmi Menjadi Desa Wisata

Tonggak terbesar dalam sejarah Desa Candirejo terjadi pada 19 April 2003. Pada tanggal tersebut, Candirejo diresmikan sebagai desa wisata oleh Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Republik Indonesia saat itu, I Gede Ardika.

Peresmian tersebut menjadikan Candirejo sebagai desa wisata pertama di Kabupaten Magelang, sebagaimana tercantum dalam informasi resmi Pemerintah Desa Candirejo.

Pada tahun yang sama, dibentuk pula Koperasi Desa Wisata Candirejo sebagai badan yang mengelola aktivitas pariwisata. Pengelolaan melalui koperasi diperkuat melalui Keputusan Desa Nomor 04/KEPDES/05/2003.

Keberadaan koperasi menjadi bagian penting dari model pariwisata Candirejo karena aktivitas wisata dapat dihubungkan dengan berbagai kelompok masyarakat.

Pendapatan dari wisata tidak hanya bergantung pada satu pengelola. Pemandu lokal, pemilik homestay, pengemudi andong, pelaku kuliner, petani, pengrajin hingga kelompok kesenian dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi wisata desa.

Model koperasi tersebut masih menjadi bagian penting dalam pengelolaan Candirejo hingga sekarang.

Kementerian Pariwisata pada 2025 kembali menyoroti Candirejo sebagai contoh pengembangan wisata komunitas yang memaksimalkan potensi melalui sistem koperasi yang telah berjalan sejak 2003.

Dari Desa Pertanian Menjadi Destinasi Wisata Berbasis Pengalaman

Keunikan Candirejo adalah kemampuannya mengubah aktivitas desa menjadi pengalaman wisata tanpa sepenuhnya meninggalkan karakter asli masyarakat.

Wisatawan dapat menjelajahi perkampungan menggunakan sepeda atau andong, mengunjungi industri rumah tangga, belajar mengenai pertanian, melihat proses pembuatan makanan tradisional, mengenal kerajinan, hingga tinggal di homestay milik masyarakat.

Kawasan perbukitan Menoreh juga memberikan potensi wisata alam. Sementara itu, kehidupan budaya tetap hadir melalui kesenian seperti karawitan, wayang, dan cokekan.

Konsep tersebut membuat wisata Candirejo lebih berorientasi pada pengalaman dibanding sekadar melihat objek.

Wisatawan tidak hanya datang, mengambil foto, lalu pulang. Mereka diajak berinteraksi dengan penduduk, memahami pekerjaan masyarakat, menikmati makanan lokal, dan mengenal cara hidup di pedesaan.

Pendekatan ini pula yang membuat Candirejo banyak dibahas sebagai contoh pengembangan pariwisata berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat.

Perjalanan Candirejo Menuju Desa Wisata Mandiri

Perjalanan Candirejo tentu tidak berhenti setelah peresmian tahun 2003. Pengelolaan terus berkembang dengan memperkuat kelembagaan, pelayanan, sumber daya manusia, pelestarian budaya, serta pengembangan produk wisata.

Pada 2020, Candirejo mendapatkan Sertifikat Desa Wisata Berkelanjutan dan sertifikat CHSE. Setahun kemudian, desa ini menjadi salah satu dari tujuh desa yang memperoleh predikat Desa Wisata Mandiri Inspiratif dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.

Promosinya bahkan berkembang hingga tingkat internasional.

Pada Travex ASEAN Tourism Forum 2024 di Laos, Candirejo turut dipromosikan bersama Candi Borobudur sebagai salah satu destinasi yang memperkenalkan kekayaan budaya Jawa, aktivitas masyarakat, pertanian, kerajinan, kuliner, dan wisata alam.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan desa wisata tidak harus dimulai dari pembangunan atraksi besar. Candirejo justru berkembang dengan menjadikan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat sebagai kekuatan utama.

Pelajaran dari Sejarah Desa Wisata Candirejo

Ada satu hal menarik yang dapat dipelajari dari perjalanan Candirejo: pariwisata desa membutuhkan proses.

Gagasan mulai dikembangkan pada 1997, status desa binaan wisata diperoleh pada 1999, kemudian proses pembinaan berlangsung hingga akhirnya Candirejo diresmikan sebagai desa wisata pada 2003.

Artinya, perubahan tersebut membutuhkan perencanaan, pendampingan, kelembagaan, dan keterlibatan masyarakat selama bertahun-tahun.

Candirejo juga menunjukkan pentingnya memulai pengembangan wisata dari potensi yang benar-benar dimiliki masyarakat.

Pertanian tidak perlu dihilangkan demi pariwisata. Tradisi tidak harus diubah menjadi pertunjukan modern. Rumah masyarakat bahkan dapat menjadi homestay, sementara transportasi tradisional seperti andong menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Inilah yang membuat konsep desa wisata terasa lebih autentik sekaligus membuka peluang agar manfaat ekonomi dapat tersebar kepada masyarakat.

Sejarah Desa Candirejo menunjukkan perjalanan panjang sebuah desa agraris di kawasan Borobudur dalam mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat.

Gagasan desa wisata mulai dirintis pada 1997, Candirejo menjadi Desa Binaan Wisata pada 1999, kemudian secara resmi diresmikan sebagai desa wisata pada 19 April 2003 dan dikenal sebagai desa wisata pertama di Kabupaten Magelang.

Keberhasilan Candirejo bukan hanya terletak pada panorama Menoreh atau kedekatannya dengan Candi Borobudur.

Kekuatan sebenarnya berada pada masyarakat yang menjaga pertanian, kesenian, tradisi, kuliner, kerajinan, dan kehidupan pedesaan sebagai bagian dari pengalaman wisata.

Jika berkunjung ke kawasan Borobudur, luangkan waktu untuk menjelajahi Candirejo. Di sini, perjalanan wisata bukan sekadar melihat tempat menarik, tetapi juga kesempatan mengenal kehidupan dan budaya masyarakat Jawa dari dekat.

FAQ

1. Kapan Desa Candirejo mulai dikembangkan sebagai desa wisata?

Gagasan pengembangan desa wisata mulai dirintis sekitar tahun 1997. Pada 31 Mei 1999, Candirejo kemudian ditetapkan sebagai Desa Binaan Wisata Kabupaten Magelang.

2. Kapan Desa Wisata Candirejo diresmikan?

Desa Candirejo diresmikan menjadi desa wisata pada 19 April 2003 oleh Menteri Pariwisata dan Kebudayaan RI saat itu, I Gede Ardika.

3. Apakah Candirejo merupakan desa wisata pertama di Kabupaten Magelang?

Ya. Informasi resmi Pemerintah Desa Candirejo menyebut Candirejo sebagai desa wisata pertama di Kabupaten Magelang.

4. Di mana lokasi Desa Wisata Candirejo?

Candirejo berada di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sekitar tiga kilometer dari kawasan Candi Borobudur.

5. Apa yang membuat Desa Wisata Candirejo menarik?

Daya tariknya berasal dari kombinasi kehidupan masyarakat, pertanian, bentang alam Menoreh, kesenian tradisional, kerajinan, kuliner, homestay, serta pengalaman menjelajahi desa menggunakan sepeda maupun andong.